Jumat, 07 November 2025

Mengapa Nulis ini?

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan untuk ketekunan. Ia seperti teman ajaib yang sabar sekali menyusun huruf demi huruf hingga jadi kalimat. Tanpa ketekunan, NIANG AGUNG, epos benci dan cinta di 3142 mdpl mungkin belum selesai. Saya belajar dari teman-teman di kampus yang suka berdiskusi dan meneliti banyak hal. Kami sering bertanya-tanya, apakah pikiran membuat dunia berubah, atau dunia yang membuat pikiran berubah? Mungkin keduanya saling memengaruhi. Dalam cerita ini, mahkota bukan tanda kekuasaan, tapi kerja yang bisa membawa kutukan. NIANG AGUNG adalah kisah benci dan cinta di puncak gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut. Dunia mereka misterius, yang bertarung diantara cahaya dan kegelapan. Tokohnya mencari arti dari nama dan rahasia alam semesta. Siapa pun yang memakai mahkota akan tahu kebenaran yang menyakitkan. Setiap kemenangan punya harga yang mahal, dan setiap kekalahan membawa pelajaran. Ide cerita ini muncul dari disertasi saya berjudul Ketahanan Ekonomi Berpola Budaya di Universitas Udayana. Cerita ini juga terinspirasi dari perjalanan saya bersama lima teman menuruni Gunung Agung di Bali. Kami belajar banyak tentang kerendahan hati dan kebersamaan. Novel ini merupakan versi baru dari Epos Tasbih dan Bandit yang rilis tahun 2023, yang dilanjutkan dengan versi Cerita Doktor Dharma di Atap Bali tahun 2024 dalam bentuk e-book. Sekarang, ia dikembangkan lagi dengan cerita yang lebih lengkap dan detail. Ceritanya dimulai dari awal terbentuknya sebuah pulau, lalu terjadi banjir besar dan letusan gunung yang membangkitkan kesadaran manusia. Saya memilih genre fiksi supaya pembaca, terutama mahasiswa dan pelajar tidak bosan membaca teori yang berat. Saya ingin buku ini membuat mereka semangat membaca lagi Buku ini juga cocok untuk guru, pelajar, politikus, dan pencinta literasi. Kisahnya tentang benci dan cinta di tiga dunia yang tidak pudar meski waktu terus berjalan. Dunia Nyata (Sekala). Di sini ada tokoh Dharmala si Raja Lalim, Tasbih, Bandit, dan Ghania Sang Ibu. Mereka hidup dalam perebutan kekuasaan, kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Dunia Arwah (Niskala). Di dunia ini, keempat roh diuji oleh karmanya dan belajar tentang kehidupan setelah kematian. Dunia Reinkarnasi. Para tokoh lahir kembali sebagai manusia dan hewan. Bengali yang sakit-sakitan, Rosario tukang sapu kuil, Borah si anjing, Arati sang penjual sayur asem, dan Teti sang pekerja malam. Mereka berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu. Cerita ini mengajak kita menanam suka dan duka di dalam diri sendiri, bukan hanya di pot bunga. Dari situ, mungkin tumbuh pohon kedamaian, dan daunnya bisa jadi tisu untuk menghapus air mata orang lain. Teks ini juga dibantu oleh anak dan istri saya supaya lebih rapi dan mudah dibaca. Saya berharap buku ini bisa jadi jendela pengetahuan, atau setidaknya lubang angin untuk pikiran agar bisa bernapas segar. Saya bersyukur bisa merapikan tulisan lama yang sempat berantakan seperti cucian setelah liburan. Jika ada kesamaan nama tokoh atau kejadian, itu murni kebetulan. Eureka! Kebenaran memang berharga, tapi juga menakutkan. Beranikah kamu menemukan dan mau membongkarnya? – Dharma Hartawan